Kuntum Bunga Idul Adha (2)

Kuntum bunga yang kulihat dua tahun lalu itu,,
masih terkenang di hati,,
selalu,,
mungkin seumur hidup..

Idul Adha kali ini membuatku ingin menulis sesuatu untuk diriku. Seperti halnya di tahun sebelum tahun kemarin, ketika bunga anggrek ungu berbentuk bintang menyambut awal-awal penjelajahanku ke negeri yang lain. What’ve I done..

Pengorbanan: tema yang selalu terangkat dalam Hari Raya Qurban. Kekasih Allah itu, Ibrahim a.s., meninggalkan kisah yang amat dalam supaya diteladani. Tatkala beliau menguatkan hati tanpa ragu untuk merelakan anaknya. The one whom he loves the most in this world..

Di dunia ini hakikatnya tidak ada yang dimiliki, tak peduli seberapapun kecintaan kita padanya. Lahir dan mati sendiri tanpa membawa materi maupun persona.  Satu masa harta bisa melimpah; masa yang lain rezeki bisa menyempit. Satu episode badan sehat; episode yang lain tubuh sakit. Satu rentang penuh progress; rentang yang lain stagnan. Satu waktu senang; waktu yang lain sedih. One time being trusted and getting along with; another time being untrusted and getting left behind..

Nabi s.a.w mengingatkan bahwa hidup memang seperti perjalanan. Apa yang di sekitar adalah sekadar peluang amal. Apa yang diraih adalah sebatas perbekalan. Untuk setiap tapak yang terjejak akan dinilai. Sebagaimana sebuah perjalanan dimana yang dinanti adalah waktu pulang ke rumah: ke surga. Dengan prasyarat hati yang selamat dari penyekutuan terhadap ilahi, serta bebas dari kezhaliman dan ketidakridhoan teman seperjalanan: sesama manusia. How much more will I have to go through, before my heart is forgiven?

Aku sadar telah banyak menyakiti orang lain. Kucoba mencurahkan semua perasaan dan kepedulianku, namun malah menimpakan penderitaan. Itu terasa sakit yang traumatis. Mungkin segala hal dan waktu yang terbagi dengan ketulusan ternyata tidak berarti lagi. The memories restrain my steps, I cannot choose my next destination..

Aku tahu bahwa aku sama sekali tidak berhak meminta orang lain mengerti yang kurasakan. Tapi situasi yang bahkan aku tidak memiliki izin untuk memperbaiki apapun ini sungguh membuatku larut. I’m always searching for a chance to appear somewhere, sometime..

Sahabat Umar r.a. pernah bercurhat, “Seandainya bukan karena tiga hal maka aku tidak suka hidup di dunia ini, yaitu: berjuang di jalan Allah, melewati malam-malam dengan banyak beribadah dan bergaul bersama orang-orang yang memilih pembicaraan yang baik.” Mengingat ungkapan itu serta-merta gumamanku terlintas, “Kalau bukan karena mempelajari dan mengajarkan ilmu dan Al-Qur’an, serta menghabiskan kemanfaatanku kepada dunia, maka sudah hilang keinginan hatiku berlama-lama menjalani hidup.” If my wish were to come true, I would put everything on the line..

Hari-hari ini pula, di sembilan tahun yang lalu, aku menghadap kesana. Sebenar-benarnya aku bersaksi bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan niat dan ikhtiar hamba-Nya, juga tidak akan mencampakkan munajat hamba-Nya. Aku ingin mengadu lagi. Ingin kembali agar bisa memohon ampun lagi. Karena sejak itu hingga kini, betapa buruk dan bersalahnya diriku yang kurang bersyukur. Kepada-Nya dan kepada semuanya. Sungguh rendah dan inferiornya aku yang tidak ada apa-apanya dan bukan siapa-siapa. So please, one at a time, don’t disappear, I still believe..


Aku sangat berharap supaya tetap dalam petunjuk-Mu, selalu percaya dan yakin pada firman-Mu,,

“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang beriman dan tidak pula bagi wanita yang beriman apabila Allah dan rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara akan ada pilihan lain bagi mereka.”
[QS 33:36]

“Yaitu tatkala ia (Zakaria) berdoa kepada Rabb-nya dengan suara yang lembut. Ia berkata, ‘Ya Rabb, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabb.'”
[QS 19:3-4]

“Demi waktu dhuha.
Dan demi malam tatkala sunyi.
Rabb-mu tidak meninggalkanmu dan tidak benci kepadamu.
Sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia.
Dan kelak Rabb-mu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga kamu ridha.
Bukankah dia mendapatimu sebatang-kara lalu Dia melindungimu.
Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk.
Dan dia mendapatimu berkekurangan lalu Dia memberikan kecukupan.
Terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.
Dan terhadap nikmat Rabb-mu hendaklah kamu nyatakan kesyukuranmu.”
[QS 93:1-11]

Kuntum bunga yang kulihat dua tahun lalu itu,,
tidak akan hilang dari hati,,
selalu,,
mungkin seumur hidup..

Really.
I beg your pardon..
I’m sorry…

(Ditulis ditengah kesunyian malam bulan Dzulhijjah. Untuk orang-orang yang kusayangi, disana.. One more time, one more chance..)

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s