Kuntum Bunga Idul Adha

Johor, Jum`at 27 November 2009, waktu dhuha.

Lagi, hari raya kulalui tanpa dampingan keluarga. Kali ini aku dan rekan-rekan mengunjungi pemukiman warga Indonesia untuk merayakan Idul Adha. Rangkaian acara penyemarakkan hari raya haji tahun ini antara lain seperti takbiran, shalat ied, jamuan, pengajian, dan qurban, menjadi agenda kami sebagai panitia. (lengkapnya baca disini).

Begitulah, baik sekarang maupun hari-hari biasa lainnya. Membina, dakwah, berbagi kebahagiaan, dan menyikapi kedukaan bersama ‘keluarga baru’ (dari kalangan pelajar/akademisi, profesional/expat, serta TKI) merupakan hal yang mewarnai kehidupan kami di negeri orang. Murobbi-ku disini mengatakan bahwa, sebagai aktivis, sudah menjadi karakter dan tugas kita untuk selalu menebar rahmat bagi sekitar serta berperan positif dimanapun berada. Yang pelajar jangan hanya mengejar kecemerlangan ilmiah pribadi. Yang profesional jangan sebatas menjajaki karir. Yang TKI jangan semata mencari nafkah. Ingat, di atas semua profesi itu, kita adalah juga seorang da`i. Inilah yang memberi nilai lebih bagi diri kita. (selanjutnya baca disana).

Hari itu, kegiatan dilaksanakan di kebun bunga. Di sela-sela acara, aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan menikmati keindahan bunga-bunga yang tumbuh. Sejenis bunga mencuri perhatianku. Bunga anggrek ungu berbentuk bintang. Hmm, ‘bunga’, ‘anggrek’, ‘ungu’, dan ‘bintang’. Kombinasi yang mengagumkan, pikirku.

Bunga. Sosok gadis-gadis kecil tertangkap lirikanku. Mereka adalah putri-putri teman-temanku, yang sempat kucandai tadi pagi usai shalat ied (disini aku paling muda. Teman-temanku, semua sudah bapak-bapak). Ya, seringkali ‘bunga’ diidentikkan dengan ‘wanita’.

Mendidik anak gadis ibarat memelihara sekuncup bunga. Ia harus dirawat hingga akhirnya mekar sempurna. Ia ditanam di media tanah aqidah, bersama iman, Islam, dan ihsan sebagai nutrisinya. Menyiramnya dengan kasih sayang serta kebiasaan beradab/berakhlaq yang dibiasakan kedua orang tuanya. Ditumbuhkan dengan memoles fitrahnya dari sisi intelejensi, fisik, sosiologi, perilaku, dan keagamaan.

Jika tidak dididik tentang perkara yang bermanfaat dan malah ditelantarkan, maka ia akan layu. Jika dikembangkan dengan ajaran yang salah, maka bukannya menjadi bunga yang indah, tapi justru akan menjelma menjadi bunga bangkai.

Ayah dan ibunya harus memperhatikan tanggung jawab ini. Tancapkan sifat yang tangguh, jangan tancapkan sifat pengecut, penakut, dan suka mengeluh. Hujamkan sikap yang luhur, jangan hujamkan sikap manja (yang berlebihan), tidak disiplin, dan foya-foya harta. Mereka butuh kedekatan, belaian dan kelembutan, jangan orang tua asyik lama di luar rumah jauh dari anak-anak. Ayah-ibu adalah teladan awal bagi anak. Karena keluarga adalah madrasahnya yang pertama. Oleh karena itu, orang tua harus sadar agama. Wajib menjauhi dosa, makanan haram, dan harta yang syubhat. Karena keshalihan serta do`a orang tua akan berpengaruh pada keshalihan anak.

Kemudian si gadis akan terjun di tengah masyarakat. Saat itu, ia harus siap (orang tua harus mempersiapkannya) sehingga bisa hidup wajar dan tenang dalam komunitas. Disini tampak peran keluarga dalam membangun peradaban. Bukankah kebaikan lingkungan masyarakat sangat bergantung pada kebaikan tiap individunya? Sang bunga yang baik akan menjadi penunjang keindahan di hamparan taman umat.

Kelak ia akan menemukan kumbangnya dan menikah. Suaminya hendaklah orang yang bisa membimbingnya, melanjutkan tugas orang tuanya dahulu. Kelak ia juga akan menjadi ibu, yang cenderung membesarkan anak-anaknya sebagaimana cara ia dahulu dibesarkan oleh ayah-ibunya. Seorang istri yang baik dan ibu yang pandai mendidik adalah tiang keluarga. Bila istri baik, maka baiklah keluarga dan anak-anak. Jika anak-anak baik, maka bangsa akan kuat, karena anak adalah generasi.

Dan ketika tiba masanya sang bunga yang shalihah menyelesaikan hidupnya, Allah akan memindahkannya, dari taman dunia menuju taman surga, bersama orang-orang yang dicintainya.

Anggrek. Sebagian perumpamaan yang indah tentang anggrek, kuperoleh dari seorang ustadz. Barangkali anggrek merupakan jenis bunga yang paling kaya variasi warnanya. Namun saat kucium, tidak ada baunya. Warna-warninya menandakan kualitas, -kuberbaik sangka- akan tetapi tidak perlu pamer menunjukkan keharuman dengan sombong, begitu tawadhu-nya ia. Anggrek, walaupun tidak meminta asupan air berlebih, ia selalu mekar (berbunga). Betapa ikhlash, tanpa pamrih, sederhana, dan qona`ah. Konon pada sebatang pohon anggrek, kuntumnya tidak akan gugur satupun sampai semua kuntum yang lain mekar, pertanda kesetiaan, komitmen, dan kepercayaan. Sempat aku berbincang dengan pekerja kebun, katanya setelah panen bunga-bunga itu akan diawetkan di dalam botol kaca dan diekspor ke beberapa negara. Wah, tidak hanya di Indonesia dan Malaysia saja, ternyata engkau selalu indah serta menjadi kebaikan dimanapun kau berada.

Ungu. Teringat pelajaran fisika yang berisi penjelasan kuanta energi cahaya. Dirumuskan bahwa energi sebanding frekuensi dengan faktor konstanta planck sebagai pengali. Warna ungu memiliki frekuensi yang tinggi sehingga energinya pun besar. Enerjik dan penuh semangat. Dari sisi historis, diceritakan bangsawan Romawi dahulu identik dengan jubah ungu, perlambang pesona keanggunan didampingi aura kekuatan dan harapan. Selain itu, dalam kajian psikologi, ungu diasosiasikan dengan kesetiaan dan efek tenang menyejukkan, persepsinya dalam dan peka. Ia pun langka dan unik, karena warna ini jarang ditemui di alam secara alami. Satu lagi, menurut temanku, ungu pertanda transformasi. Dengan catatan, perubahan itu bisa saja ke arah yang lebih baik atau ke arah yang lebih buruk. Jika teguh pada jalan kebenaran disertai partner-partner yang hanif, maka ia akan bergerak positif; vice versa.

Bintang. Mengenai ini tentu saja kembali kurujuk dari tulisan-tulisanku sebelumnya. Tafakkur Tentang Bintang, versi pertama, kedua, dan ketiga. Untuk hematnya, kurasa tidak perlu dipaparkan ulang disini. (Silakan simak tulisan-tulisan tersebut).

Bunga anggrek ungu berbentuk bintang, perihalmu sungguh luar biasa. Terbesit keinginan untuk mengambil dan membawanya sebagai buah tangan. Ah, tapi aku tidak tega memetiknya.

Lalu serta-merta suara adzan memanggilku untuk melaksanakan shalat Jum`at. Tidak terasa, ternyata cukup lama aku melamun di kebun bunga itu (semoga menjadi lamunan yang bernilai tafakkur). Selamat Hari Raya Idul Adha 1430H.

[Untuk semua yang kurindukan, disana, di Indonesia..]

4 Comments

Filed under Diary

4 responses to “Kuntum Bunga Idul Adha

  1. Salam kunjungan perdana

    Wah..bagus2 tulisannya, imamul…

    btw..
    bukannya anggrek berbau harum, ya ?😀

    • Trims kunjungannya.🙂
      Punten, ini jg masih belajar nulis2.

      Entah ya, anggrek yg ini gak berbau. Atau cuma yg ini aja. Berhubung pertama kali nemu anggrek tuh yg itu..

  2. Pingback: 2010 in review | The Chronicle of Muttakin

  3. Pingback: Kuntum Bunga Idul Adha (2) | The Chronicle of Muttakin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s