Tafakkur Tentang Bintang (trilogi)

Lab IC Design, gedung PAU lantai 4, Sabtu 20 Juni 2009 03:48am.

3 o’clock coffee break: waktu rehat sejenak di sela pekerjaan panjang malam itu.

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

for all of the stars that shining on me..

…Dan apabila dikatakan, “berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat… [QS Al-Mujadilah (58) : 11]

Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. [HR Muslim]

Yang dicetak miring di atas adalah tulisan yang kuketikkan di ‘Lembar Persembahan’ buku Tugas Akhir yang kususun. Empat tahun perjalanan di kampus ITB ini kudedikasikan untuk semua bintang yang menyinariku. Segenap pihak yang menjadi sumber asa dan inspirasi bagiku untuk terus berjuang.

Dalam teori komunitas dikenal empat jenis individu. Tipe pertama adalah orang yang sibuk memikirkan dirinya, enggan melaksanakan kewajiban serta tidak mau berkontribusi. Tipe kedua adalah orang yang terus menuntut hak tapi melupakan kewajiban. Tipe ketiga adalah orang yang mencukupkan diri dalam pelaksanaan kewajibannya saja, setelah selesai tugasnya maka selesai pula aktivitasnya.

Tipe keempat adalah orang yang profesional, kerap berkarya, inovatif, memiliki inisiatif, kreatif serta bermotivasi. Ia menjadi cermin kebaikan secara bertanggung jawab dengan akhlaq mulia. Dialah bintang. Bagaimana cara menjadi bintang, seperti mereka?

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti misykat (sebuah lubang yang tak tembus), yang di dalamnya ada mishbah (pelita besar). Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan kawkab (bintang yang bercahaya) seperti mutiara… [QS An-Nur (24) : 35]

Allah menerangi langit dan bumi dengan memberi petunjuk (berupa kehadiran Nabi dan Al-Qur’an) kepada penduduk langit dan bumi. Perumpamaan cahaya orang-orang beriman (petunjuk yang telah dibenamkan dalam hati mereka) secara sederhana dapat digambarkan:

‘Lilin’ yang diletakkan dalam lubang (gelap) tentu tampak sangat terang dan dominan. Balutan kaca membuat cahayanya lebih terang lagi, karena kaca selain memantulkan, meneruskan, juga mengumpulkan cahaya.

Bahkan kaca itu bukan kaca biasa, tapi kaca berkualitas kristal sehingga ‘lampu’ tersebut, dalam menyinari sekelilingnya, bagaikan bintang yang bercahaya seperti mutiara.

Ibadah zhahir (lahir) dan ibadah bathin membentuk kaca. Semakin berkualitas ibadah maka semakin berkualitas kaca tersebut. Sampai pada level kristal atau bahkan yang lebih lagi. Dan jika kaca itu jernih maka ia pun akan dengan mudah menerima petunjuk (cahaya hidayah dan taufiq) dari Allah.

Sedangkan mishbah (pelita) dalam misykat (hati dan jasad seorang mukmin) itu akan semakin besar seiring bertambahnya nilai-nilai Islam (Al-Qur’an dan Sunnah), budi pekerti, serta pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Oleh karena itu, cara agar bintang berkilau seperti mutiara adalah:

  1. Buatlah misykat yang baik. Hati yang muthmainnah dan jasad yang tangguh.
  2. Nyalakan mishbah. Hujamkan nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Pelajari ilmu pengetahuan. Semakin banyak maka semakin besar pelita itu.
  3. Rangkai kaca yang berkualitas. Sempurnakan ibadah. Semakin berkualitas kaca itu maka semakin sempurna ia dalam mengumpulkan dan memantulkan cahaya. Juga semakin mudah menerima cahaya ilahi.
  4. Mohon kepada Allah agar senantiasa diberi cahaya petunjuk dan hidayah-Nya.

Ambil contoh poin ke-3, misalnya ibadah sholat. Semakin berkualitas sholat maka ‘kristal’ yang terbentuk akan semakin berkualitas pula. Ustadz Irfan Anshori (akademisi bidang kimia) dalam ceramahnya pernah menyampaikan (merefer dari tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb, tafsir surat Al-Ma`arij) hematnya:

Sholat yang berkualitas adalah sholat yang berkesinambungan. Disini bukan saja berarti sholat yang dilaksanakan terus menerus tiap waktu sholat. Namun setiap saat, antara satu waktu sholat dengan waktu sholat lain, makna ibadah sholat itu selalu berusaha kita lekatkan dalam kehidupan. Ketawakkalan serta harapan tertinggi pada Allah, sabar, dan khusyuk senantiasa menghiasi hari-hari kita sehingga dampak sholat, yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar, benar-benar kita peroleh. Demikian juga pada kasus ibadah-ibadah lain.

Jika mengamati angkasa, memang ada bintang yang tampak benderang, ada yang biasa saja, adapula yang terlihat redup. Tinggal kita memilih akan menjadi bintang yang benderang, yang biasa saja, ataukah yang redup. Kemudian berkomunitaslah bersama bintang-bintang lain. Bukankah jama`ah gugusan terang bintang jauh lebih indah dan memakna petunjuk?

Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandang(nya), [QS Al-Hijr (15) : 16]

…dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk. [QS An-Nahl (16) : 16]

Referensi:

[1]    Al-jami` li Ahkam Al-Qur’an

[2]    At-Tafsiru Al-Qayyimu

[3]    Fi Zhilal Al-Qur’an

[4]    Muttakin, Imamul. 2009. Laporan Tugas Akhir Strata 1: Perancangan Upconverter pada Transceiver WiMAX. Program Studi Teknik Elektro, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung.

2 Comments

Filed under Diary

2 responses to “Tafakkur Tentang Bintang (trilogi)

  1. sangbintang

    weeeiks… kaka sayah gak gitu ngeri, gak seperti 2 tulisan sebelumnyah. he he😀
    entah karena sayah nyah yang kurang konsen kali yah.

  2. bagian mana yg gak gitu ngerti?

    diimani aja klo gtu.😛
    emang ada hal-hal yang harus dirasakan untuk bisa dimengerti, tidak cukup tau saja.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s