Tadzakkur Gempa

Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi, gedung 20 lantai 4, ruang 406, LIPI, Rabu 2 September 2009, jelang waktu `ashr.

Mouse komputer begetar walaupun tergenggam aman oleh telapak kananku. Tanpa sempat heran, ruangan yang serta-merta bergoncang memaksaku bangkit dari meja kerja. Sore itu, gempa serentak melanda dengan pusatnya di laut selatan Tasikmalaya.

Panik, seisi gedung bergegas berusaha keluar. Hal yang wajar. Di tengah situasi itu, Aku sempat mengamati suasana. Sebagian berteriak-teriak tidak jelas. Sebagian memekik-mekik takbir dan istighfar. Sebagian membantu dan mengarahkan evakuasi. Sebagian lagi nampak tenang wajahnya, namun tetap cekatan.

Lusa setelah hari-H, pada khuthbah Jum`at, perenunganku seakan mendapat dukungan khathib. Tiada musibah kecuali dengan izin Allah. Panorama waktu itu sedikit banyak menggambarkan sikap kita terhadapnya.

Histeria yang berlebihan seolah menunjukkan ketidak-ridho-an atas kehendak Allah. Pucat kepanikan seakan menyampaikan ketidaksiapan menghadapi kematian.

Kejadian ini mengajarkan hal yang berharga. Mengingatkan pada penggalan ungkapan, “beribadahlah (beramallah) seolah-olah kau akan mati esok.” Maut bisa datang kapanpun. Sudahkah kita bersiap?

Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. [QS Al-A`raf (7) : 99]

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [QS Al-Hadid (57) : 16]

Ironisnya, saat itu ratusan orang berhamburan keluar. Akan tetapi tak lama kemudian, hanya 3 shaff yang menyambut kumandang adzan `ashr di masjid yang jaraknya hanya beberapa meter di dalam kompleks perkantoran. Sisanya mungkin lebih memilih pulang atau pergi entah kemana.

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. [QS Yunus (10) : 12]

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s