Kamu Kejam (Hikmah Dibalik Sakit)

Poliklinik Bumi Medika Ganesha, Senin 13 Juli 2009, 15:02.

Demam dilengkapi pusing dan batuk sejak semalam memaksaku untuk berobat pada sore itu. Di bilik pemeriksaan, dokter menanyakan apakah aku sudah mencoba minum obat, lalu kujawab “belum.” Kutambahkan lagi, “sebenernya saya gak mau berobat, tapi besok ada training kerja, jadi saya berobat sekarang.” Kontan sang dokter menimpali, “itu namanya menzhalimi diri sendiri. Sama diri sendiri aja zhalim, gimana sama orang lain? Kamu pasti orang yang kejam.” Kata-kata itu terus terngiang di benakku ketika menunggu obat di apotek.

Setidaknya sampai sekarang aku memahami apa yang terajar pada materi tasawuf. Bahwa sakit itu harus dinikmati. Sungguh memang sekecil apapun derita yang dialami seorang muslim akan menjadi penggugur dosa baginya. Aku selalu ingat hadits itu:

Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegundahan, kesusahan, godaan, dan kesedihan sampai duri yang mengenai kakinya kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya [HR Bukhari – Muslim]

Kalau begitu sudah saja tidak usah diobati. Toh tiap betik rasa sakit yang menyeruak menjadi tanda gugurnya dosa. Tentu saja hanya Allah yang tahu seberapa kadar dosa yang gugur sesuai dengan kadar sakitnya. Syaratnya adalah sabar menghadapinya. Bahkan ridho sajalah. Badan ini milik Allah. Terserah Dia kalau hendak menimpakan ujian. Sebagaimana kesenangan adalah ujian untuk disyukuri, kesakitan pun ujian untuk disabari. Lagipula tubuh memiliki mekanisme pemulihan mandiri. Jadi biarlah ia sembuh dan membangun kekebalannya sendiri.

Itulah sepenggalannya. Aku sadar ada penggalan lain yang kutinggalkan. Benar kata dokter. Membiarkan raga digerogoti penyakit berarti menzhalimi hak jasad. Padahal ayat ini pun cukup terekam dalam pikiran:

dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan… [QS Al-Baqoroh (2) : 195]

Badan ini memang milik Allah. Memang terserah Dia jika hendak menimpakan ujian berupa sakit. Akan tetapi jangan lupa bahwa anugrah jasmani juga harus disyukuri. Caranya dengan merawat, menjaga kondisi, memenuhi gizi, olahraga, memberi hak istirahat, dan tidak melakukan hal-hal yang berbahaya yang dapat mencelakakan/merusak tubuh. Wajib hukumnya.

Dan lagi kondisi sakit akan merenggut keoptimalan dalam beraktivitas serta kekhusyuan dalam beribadah. Sangat terasa bagiku. Kesigapan shalat berjama’ah tepat waktu menjadi kendur. Nikmatnya membaca al-qur’an pun seakan luntur. Sepertiga malam malah sibuk menggigil dan berkemul. Kegiatan-kegiatan tidak lagi dapat dikerjakan secara prima. Berbagai tanggung jawab lalai dipenuhi. Mungkin ada pula orang lain yang dirugikan karena amanah terhadap mereka urung ditepati (walaupun biasanya mereka maklum).

Sabar bukanlah berarti pasrah secara pasif. Sabar adalah kerangka yang didalamnya terdapat niat (saat awal yang dijaga hingga akhir), ikhtiar (saat proses), dan tawakkal (saat akhir). Artinya pada ketiga fasa tersebut (niat – ikhtiar – tawakkal), sikap sabar selalu teriring. Dengan demikian, dalam hal ini, berobat adalah ikhtiar bagi si sakit sebagai jalan tempuh untuk memperoleh kesembuhan. Yang dengan kesembuhan itu, aktivitas dan ibadah akan kembali maksimal.

Aku camkan, kesembuhan itu dari Allah. Dokter dan/atau obat adalah syariat menuju kesana, namun bukan penentu utama segalanya. Sebagaimana kata-kata ayahku Nabi Ibrahim a.s. (semoga dengan berusaha mengikuti millah/agama dan menelusuri kehanifan beliau, kita semua ‘boleh’ memanggil beliau dengan sebutan ‘ayah’):

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku [QS Asy-Syu’ara’ (26) : 80]

Oh, ada satu hal yang aku tidak setuju dari dokter yang memeriksaku itu. Ia bilang, “Sama diri sendiri aja zhalim, gimana sama orang lain?” Seolah-olah memperlakukan orang lain itu lebih buruk daripada memperlakukan diri sendiri. Mungkin ‘normalnya’ begitu. Tapi itu bukan perilaku ihsan.

Ihsan ada dua jenis: ihsan kepada Allah dan ihsan kepada sesama makhluq. Ihsan kepada Allah berarti kita hanya ‘melihat’ Allah dalam ibadah kita. Segala hal urusan menyangkut diri, tidak dianggap dan hanya fokus pada penghambaan kepadaNya. Ihsan kepada sesama manusia berarti kita ‘melihat’ sosok diri kita pada orang lain. Alhasil, kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita memperlakukan diri sebaik-baiknya. Bahkan perlakuan kita kepada orang lain jauh lebih baik daripada perlakuan kita kepada diri sendiri.

Yah. Kebahagiaan terbesarku saat ini adalah bisa kembali memugar materi-materi yang telah mengendap. Dengan berusaha memahami lagi ilmu-ilmu yang pernah tersampaikan. Untuk pengamalan dan aktualisasi yang lebih paripurna. Berkat perkara sakit ini.

SubhanakAllohumma wa bihamdiKa. Asyhadu an laa ilaaha illa Anta. AstaghfiruKa wa atuubu ilaiKa.

2 Comments

Filed under Diary

2 responses to “Kamu Kejam (Hikmah Dibalik Sakit)

  1. sangbintang

    he he:D inspiratif sekali…
    terutama buat sayah yang pernah “dipundungin” temen gara gara gak makan seharian, gak minum, kurang tidur tapi terus kerja kuli.😛

  2. smoga lekas sembuh…
    semoga diberikan yang terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s