Robohnya Budaya Kami

cilegon, jum’at 10 april 2009.

untuk kesekian kalinya, aku pulang ke rumah. untuk kesekian kali pula aku dihadapkan pada berita besar saat mudik. akhir 2008, kuberoleh kabar meninggalnya teman sebaya satu komplek ditambah masuk penjaranya teman sepermainan lain akibat kasus narkoba. awal 2009, kujenguk dua adikku (kembar) yang baru lahir. sekarang, pamanku (yang hanya setahun lebih tua dariku) menikah. tapi kesetiap kali itu, selalu ada hal yang sama. sebuah fragmen yang hilang.

dahulu, di sore hari usai kelar sekolah madrasah, lapangan di depan masjid sangat ramai. selalu saja ada yang bermain sepakbola. yang wanita biasanya bermain karet. selain itu permainan-permainan konvensional lain pun jadi pilihan menunggu senja.

menjelang maghrib semua bubar. anak-anak bersiap (mandi, dsb.) untuk sholat maghrib di masjid. setelah maghrib, masing-masing akan berkelompok sesuai usia. tiap kelompok berbondong menuju rumah ustadz-ustadz yang berbeda menurut levelnya. waktu ba’da maghrib itu diisi dengan mengaji quran dan/atau mengaji kitab kuning sampai tiba waktu isya’. ba’da isya’ barulah agenda beres, lalu tiap orang pulang dari masjid ke rumahnya untuk persiapan sekolah pagi esok.

khusus malam jumat program mengaji libur karena ada riungan rutin di masjid. lain jika malam minggu atau hari libur, kami biasanya berkumpul lagi selepas isya’. petak umpet, dengan medan permainan di seluruh komplek, menjadi kegemaran. bisa juga diisi dengan bakar singkong rame-rame hingga menginap di rumah salah seorang kawan. dan banyak lagi variasi kegiatan lainnya. pagi hari libur digunakan untuk olahraga pagi kemudian siangnya jalan-jalan ke desa-desa sebelah atau memancing, main kelereng, layang-layang, dll.

kini semua berbeda. tidak ada lagi sepakbola dan keramaian rutin usai sekolah sore (madrasah). yang ada adalah lalu lalang motor touring sore. padahal pada masa kami, sepeda saja sudah barang paling mewah. malamnya hanya segelintir yang masih ‘bertahan’ mengaji. sisanya sibuk dengan televisi dan game  (playstation dan/atau pc). bahkan masjid pun lebih sepi ketimbang dulu. handphone yang memfasilitasi virus cinta pun sudah menjangkiti anak bau kencur sehingga membuat mereka sibuk pacaran di malam minggu. dan hari libur adalah hari ngeceng ke mall-mall di pusat kota.

tiap zaman memang memiliki makna tersendiri. hari itu aku menjadi saksi robohnya budaya kami.

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s