Petualangan di Tanah Haram

ini adalah kisah enam tahun lalu, saat aku menghabiskan waktu nyaris dua bulan (januari – februari 2003) di dua tanah haram, makkah al-mukarromah dan madinah al-munawwaroh. banyak cerita yang masih terekam di benak, namun kali ini aku hanya akan menuliskan secara garis besarnya terlebih dahulu. insyAllah jika ada keluangan, selanjutnya akan kutulis detail demi detailnya.

semua bermula ketika selepas mengaji (talaqqi quran) kepada ua (kakak ayahku, biasa kupanggil ‘abahnde’) bada isya. istri ua (biasa kupanggil ’emak’) datang dan membuka pembicaraan. “imam, siap enggak berangkat haji tahun ini?” diahadapkan pada pertanyaan macam itu rasanya diri ini tidak pernah diajari kata lain selain “iya”. jadilah kami berenam (aku, abahnde, emak, seorang pamanku ‘kang judin’, dan dua orang sepupuku: asep dan abdul aziz alias ‘kai’) mendaftar, mengikuti proses administrasi, medical check-up, seminar, dan pelatihan haji.

keberangkatan dari rumah adalah bada shubuh menuju asrama haji bekasi, sebuah embarkasi karantina sambil menunggu kloter 31 lepas landas. disanalah aku pertama berinteraksi dengan orang-orang yang nantinya menjadi kawan-kawan selama haji. keluarga satu bilik apartemen haji di saudi arabia yang bersamanya aku berbagi suka-duka. rekan beribadah, beziarah, belanja, makan, memasak (kadang rasa masakan jadi gak karuan bahkan gosong), mencuci-menjemur baju di rooftop, saling menunggu giliran kamar mandi, berdiskusi, bercengkerama, dan banyak lagi (aku kangen mereka).

walaupun terbang sempat tertunda sehingga membuatku dan rombongan menginap di bandara soekarno-hatta, akhirnya kami mengudara dengan pesawat saudi arabian airlines no penerbangan sv-5181. aku duduk di kursi no 165 di sebelah sepupuku kai dan persis di samping pintu darurat serta di depan kursi dua pramugari yang cantik. inilah pertama kalinya aku naik pesawat terbang. rasanya ‘ndeso’ saat disuguhi makanan pesawat nan aneh, menggigil kedinginan akibat ac pesawat, dan mendapati toilet tanpa air. majalah-majalah bacaan yang tak kumengerti isinya jelas tidak menghilangkan bosan. beruntung aku bisa bersabar menjalani sepuluh jam penerbangan yang melelahkan itu.

sampai di bandara king abdul aziz di jeddah, saudi arabia, aku langsung berhadapan dengan antrean administrasi imigrasi. setelah itu, proses menunggu dilanjutkan dengan mencari koper bekal. beres semua, aku dan rombongan kemudian mandi lalu berihrom. saat itu mulailah aku berusaha membiasakan diri telanjang hanya memakai dua helai kain putih mirip handuk, satu disarungkan satu diselendangkan. akhirnya rombongan naik bus menuju kota makkah. aku duduk di bagian belakang sambil bersama-sama sepanjang jalan berseru ‘labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innalhamda wanni’mata laka wal mulk, laa syarikalak’.

setelah beberapa kali berhenti untuk istirahat, kami sampai di distrik aziziyah kota makkah. daar al-haramain, itulah nama apartemen yang kutempati. di maktab haji no 63 itu, aku sekeluarga satu kamar no 403 di lantai 4.

esoknya kami langsung menuju masjidil haram naik bis khusus jema’ah melewati gunung yang dilubangi menjadi terowongan. akhirnya aku lihat rumah tua itu, ka’bah. karena kami berhaji tamattu’ maka waktu itu kami melakukan umroh. diawali tawaf, kemudian sa’i, terakhir bercukur. tidak lupa mengunjungi sumur zamzam di basement lalu meneguk airnya.

usai umroh pertama itu, kami melakukan beberapa umroh lagi pada hari-hari berikutnya. selain bolak-balik ke masjidil haram, waktu menunggu pelaksanaan haji, yaitu wukuf 9 dzulhijjah, kami isi dengan berbagai kegiatan. keluangan ini kami manfaatkan untuk berziarah, belanja, kuliner, dan mengunjungi beberapa handai tolan yang bermukim di makkah.

aku dan dua sepupuku sempat hiking ke gunung tsur (jabal tsur). sampai di puncak, terlihat seluruh kota makkah. dan yang terpenting adalah kami mengunjungi gua tsur. sebuah gua yang menjadi saksi saat Rasulullah dan seorang sahabatnya yang paling setia yaitu abu bakr bersembunyi sewaktu dalam kejaran melaksanakan hijrah.

kami juga mendatangi gunung nur (jabal nur). gunung dimana terletak gua hira tempat wahyu pertama turun. sayangnya kami tidak dibolehkan mendaki dan masuk ke gua. abahnde bercerita dulu sewaktu beliau haji bahwa gunung itu terjal dan curam jadi berbahaya. terbayang Rasulullah yang sering menyendiri ke gua itu yang ternyata menempuh medan yang berat.

selain belanja di sekitar apartemen, aku juga sering belanja di sekitar masjidil haram. yang terkenal tentu pasar seng (karena dulu atapnya dari seng). ternyata di sana banyak pedagang yang mahir berbahasa indonesia. konon mereka rela belajar bahasa untuk memuluskan usaha sebab jamaah indonesia paling banyak jumlahnya dan gemar belanja. mall-mall mewah di sekitar masjidil haram pun kukunjungi. hebatnya jika masuk waktu shalat, mereka segera menutup toko bahkan tidak segan-segan mengusir pembeli. di tengah mall terdapat ruangan luas yang biasa dipakai untuk shalat berjamaah oleh orang seluruh mall. jauh beda dengan di indonesia.

berbicara kuliner, aku sangat menikmati makanan arab. untuk makanan berat, hal yang mencolok adalah porsi lauk yang lebih banyak dibandingkan nasi. cemilan wajibku sehari-hari adalah roti daging, pepsi, teh susu, dan roti bundar besar. namun pernah aku sangat rindu tempe hingga rela berputar-putar mencari tempe mentah dan membayar 6 riyal (15 ribu rupiah) untuk itu. sepupuku lebih parah lagi. ia rela membeli bakso semangkok kecil dengan harga 10 riyal (25 ribu rupiah).

tibalah saat ihrom haji. pertama kami berangkat ke arafah untuk wukuf, berkumpul di tenda selama seharian. lalu malamnya kami berangkat ke mina. berhenti sejenak tengah malam di muzdalifah mengumpulkan kerikil untuk lempar jumroh. sampai di tenda mina pada waktu sahur. jelang shubuh langsung kami berjalan sekitar 15 km menuju jamarot. setelah lempar jumroh aqobah itu kami pulang ke apartemen di makkah yang ternyata lebih dekat dari lokasi jamarot daripada ke tenda mina. karena kami mengambil nafar awal maka selama dua hari tiap bada ashar kami lempar tiga jamarot (ula, wustho, aqobah), bermalam di mina (sekitar jamarot) beralas tikar dan kembali ke apartemen setelah dini hari.

setelah itu, prosesi haji kami selesaikan dengan tawaf, sa’i, dan tahallul di masjidil haram. beberapa hari kemudian kami melakukan tawaf wada (tawaf perpisahan) dan bersiap meninggalkan makkah menuju madinah. kami akan berada di madinah selama delapan hari untuk shalat arba’in (40 kali berjamaah tanpa putus) di masjid nabawi (masjid tempat bermulanya peradaban islam) sekaligus ziarah ke kota Rasulullah.

siang hari kami berangkat ke madinah dengan bis. perjalanan cukup jauh, dan jarak itu pula yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabat saat hijrah. di tengah perjalanan kami melintasi pekuburan ma’la, tempat khadijah dimakamkan. sempat sekali istirahat untuk shalat jama zhuhur-ashr, akhirnya kami tiba di madinah waktu gelap. daar ash-shorof lantai 2, itulah apartemen baru kami.

di sela kesibukan ibadah arba’in, belanja tetap kulakukan, hanya saja tidak se’brutal’ seperti waktu di makkah. orientasi belanja sekarang bukanlah untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi untuk oleh-oleh. barang yang paling dicari adalah kurma dan kitab. sekali aku berkunjung ke pabrik pengolahan kurma, tempat kurma diubah menjadi berbagai produk seperti permen dan dodol.

ziarah pertama adalah ke pemakaman baqi’, tidak jauh dari masjid nabawi. disana disemayamkan para sahabat termasuk utsman dan ali. kemudian kami pergi ke medan uhud, tempat berkecamuk perang uhud dan meninggalnya para syuhada. masih berdiri kokoh sebuah bukit yang dahulu menjadi camp para pemanah yang kemudian melanggar perintah Rasulullah sehingga kaum muslimin berbalik terdesak.

kami juga berkunjung ke masjid quba, masjid yang pertama dibangun atas dasar taqwa. selain itu masjid qiblatain pun kami singgahi, tempat dimana turun perintah berpindah qiblat yang asalanya berqiblat ke masjidil aqsa menjadi ke masjidil haram (ka’bah).

akhirnya tiba waktuku untuk meninggalkan madinah dan juga saudi arabia. aku hanya bisa menitikkan air mata saat berpisah dari bilik yang tertutup tepat di bawah kubah hijau yaitu makam Rasulullah dan dua sahabatnya, abu bakr dan umar. rasa haru yang sama seperti ketika aku berbalik meninggalkan ka’bah di makkah.

pintu kepulanganku adalah bandara king fahd madinah. dengan dibekali sebuah mushhaf dan sedirijen kecil zam-zam pemberian pemerintah saudi, aku naik ke pesawat dari maskapai yang sama seperti keberangkatan. saat mesin pesawat berbunyi, aku berdo’a, selain agar sampai ke tanah air dengan selamat, juga agar Allah kembali memanggilku untuk datang lagi sebagai tamu-Nya di tanah suci suatu saat nanti.

siang itu kami sampai di bandara soekarno-hatta disambut keluarga yang datang menjemput.

demikian salah satu rangkaian momen paling berharga dalam hidupku. memori akan episode ini kutulis agar tidak hilang karena lupa. mudah-mudahan juga bisa mempertebal niat pembaca untuk melaksanakan ibadah haji, rukun islam yang ke-lima. amin, insyAllah.

2 Comments

Filed under Diary

2 responses to “Petualangan di Tanah Haram

  1. Pingback: Sosok yang Kupanggil ‘Aku’ « The Chronicle of Muttakin

  2. Pingback: Kuntum Bunga Idul Adha (2) | The Chronicle of Muttakin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s