Etika Makan dan Minum

mengenai makan-minum sambil berdiri, ada dua landasan pokok:

“dari Anas, bahwa Rasulullah telah melarang seseorang sambil berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas, “Bagaimana jika makan sambil berdiri?” jawabnya, “itu lebih jelek dan kotor.” [HR Muslim]

dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah. Maka beliau lalu minum dalam keadaan berdiri.” [HR Bukhari-Muslim]

di satu sisi melarang, di sisi lain membolehkan, dan keduanya memenuhi syarat. madzhab maliki membolehkan. dalam madzhab syafi’i, makan-minum sambil berdiri dinilai menyalahi keutamaan. pada madzhab hanafi, makan-minum sambil berdiri adalah dibenci. sedangkan untuk madzhab hambali, ada yang mengatakan ‘tidak disukai’ ada pula yang membiarkan.

kemudian kesimpulannya adalah mengambil ‘jami’ul khayr’ (salah satu metoda istimbat hukum) yaitu bahwa makan-minum tidak boleh berdiri (lebih utama duduk), kecuali keadaan uzur dan darurat (misal berdesakan yang sangat). hal ini mencakup kaidah syariat: ‘larangan menjadi boleh ketika ada darurat’.

demikian dari segi syariat. kemudian dari segi hikmah:
1. makan-minum sambil berdiri akan membuat jatuhnya zat tersebut dan menabrak usus sehingga efek yang kontinyu bisa menyebabkan luka pada dinding lambung / usus
2. otot manusia saat berdiri akan bekerja untuk berusaha menyeimbangkan badan. ketegangan syaraf dan otot tersebut membuat sistem pencernaan tidak siap menerima makanan dan / atau minuman. selain itu, kondisi keseimbangan berdiri ini membuat otot kerongkongan mengkerut sehingga kadang menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan sakit jika diberi asupan makanan dan / atau minuman
3. mengkonsumsi makanan dan / atau minuman saat berdiri mengakibatkan reaksi syaraf kelana yang tersebar pada endotel usus. refleksi syaraf secara keras dan tiba-tiba akan menyebabkan disfungsi syaraf dan lebih jauhnya akan memberi kejut pada jantung (bisa pingsan atau mati mendadak)
4. air yang langsung jatuh membuatnya tidak sempat disesuaikan suhunya sehingga mengakibatkan perubahan temperatur lambung yang drastis dan menjalar ke bagian bawah tubuh
5. minum sambil duduk membuat air disaring oleh sfringer. jika berdiri, air tidak akan disaring sehingga langsung menuju kandung kemih yang mengakibatkan pengendapan limbah di ureter yang menimbulkan kristal ginjal

hal yang perlu diperhatikan adalah, syariat terlepas dari hikmah. syariat adalah ketentuan yang Allah berikan sedangkan hikmah adalah kajian dari ulama dan cendekia tentang maksud syariat. contohnya: secara hikmah mungkin kita temukan bahwa babi mengandung cacing pita yang berbahaya sehingga ‘wajar’ jika diharamkan. tetapi haramnya babi mungkin bukan semata-mata karena faktor cacing pita. kalau pun ada babi jenis unggul yang bebas cacing pita, tetap saja ia haram karena ada nash yang jelas dari Allah bahwa babi haram, dan tidak ada embel-embel ‘karena cacing pita’. sama juga kasusnya dengan makan-minum sambil berdiri. jika ternyata analisa medis itu terbukti kurang benar, maka tidak lantas hukumnya menjadi berubah.

wAllahu a’lam.

2 Comments

Filed under Diary

2 responses to “Etika Makan dan Minum

  1. Pingback: Pelajaran 24 Jam « The Chronicle of Muttakin

  2. di balik sunnah ada kejayaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s