Tafakkur Tentang Bintang

gerbang sr, sabtu, 24 januari 2009, 20:45, sebungkus nasi goreng terjinjing di tangan kanan dan sebotol ‘fruit tea’ tergenggam di tangan kiri. usai isya’ dan makan malam, aku dalam perjalanan kembali ke lab sambil membawa makanan titipan teman. waktu itu hujan, sedang, tidak gerimis serta bukan deras.

jaket terasa lebih berat karena basah sedangkan ubun-ubun kubiarkan terbuka menerima hantaman air hujan. sekalian saja kumenengadah ke langit agar wajah juga ikut terbasuh. terpandang langit tanpa bintang. tiba-tiba aku rindu bintang. rangkaian bintang yang membentuk rasi gubuk -begitulah aku menjulukinya- yang biasa kulihat di rumah.

tiap libur semester aku selalu menyempatkan pulang. pada perioda-perioda itu, selepas isya’ di masjid depan rumah, kucari rasi bintang gubuk kemudian kulirihkan bait-bait mimpi, harapan, dan janji untuk memandangnya lagi di kesempatan berikutnya. tapi di libur akhir semester 7 ini aku belum sempat pulang untuk menemuinya.

agaknya bodoh juga, apa gunanya melontarkan targetan satu semester menjelang, satu tahun menjelang, satu dekade menjelang, satu masa depan menjelang kepada bintang. salah-salah bisa terjerumus syirik. kupikir lebih baik kali ini aku mentafakkuri makhluq Allah itu. untuk apa diciptakan? bagaimanakah sifatnya? apa hubungannya dengan manusia?

di sebuah ayat, Allah bersumpah dengan bintang. berdasarkan kaidah tafsir, jika Allah bersumpah menggunakan makhluqNya maka hal itu mengisyaratkan pentingnya makhluq tersebut. penyertaan bintang pada sumpah-sumpah Allah menunjukkan pentingnya makhluq yang satu ini. oleh karena itu kita harus memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. bukankah di antara ciptaan-ciptaan Allah itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal?

Allah mendeskripsikan makhluqNya berupa bintang dalam empat bentukan kata, yaitu: najm, buruj, kawkab, dan mishbah. najm berarti benda langit yang bercahaya selain matahari dan bulan. buruj berarti kelompok atau gugusan atau rasi bintang. kawkab berarti benda langit yang bercahaya paling terang setelah matahari dan bulan. sedangkan mishbah berarti pelita atau sumber cahaya. adapun tujuan diciptakannya bintang dapat disimpulkan menjadi tiga hal, yaitu: hiasan langit, pelempar syetan, dan penunjuk arah.

kemudian rasio liarku berputar, mungkinkah insan bisa meneladani bintang? apakah bisa menjadi najm yang memiliki sinar? adakah bisa menjadi buruj yang sinergi dengan partner lain sehingga membentuk gugusan kerja sama yang lebih indah? sanggupkah menjadi kawkab yang jika dibutuhkan dapat menjelma sebagai yang-paling-terang untuk membimbing dan memimpin yang lain? kuatkah menjadi mishbah yang menjadi penjaga semangat dan penghidup asa, sumber cahaya di kala yang lain mulai redup atau bahkan mati?

ibarat hiasan, keberadaannya memperindah komunitas dan memberi persepsi yang baik bagi teman-temannya. sebagai pelempar syetan ia akan berusaha menjauhi dan menjauhkan keburukan akibat godaan syetan. di kala bingung, ia akan menunjukkan arah kemana melangkah dalam mencapai cita-cita dan tujuan bersama.

bila ada manusia seperti bintang, maka kepada dialah kusampaikan mimpi, harapan, dan janji. jika ada seorang seperti itu, maka ia-lah yang lebih kurindukan ketimbang rasi bintang gubuk di rumahku.

8 Comments

Filed under Diary

8 responses to “Tafakkur Tentang Bintang

  1. sangbintang

    subhanallah … ampe terkagum2 sayah baca tulisan ini, terutama pas bagian tafsirnya….
    hehe

    semoga bintangnyah ketemu kak😀

  2. Pingback: [artikel]kata mereka: tentang bintang « read in the name of your Lord who created

  3. Catz

    Mul, trnyata kau romantis jg, ada maksud yang tersirat disitu.. Yakan?

  4. semoga bintangnya ketemu?
    romantis? tersirat?

    saatnya merilis bayan..

    setelah bertapa di pusdai dini hari kemaren,
    akhirnya bintang itu kutemukan di sosok keluarga, teman, dan guru..🙂

    semoga Allah menganugerahkan bintang-bintang yang lain..

  5. sangbintang

    romantis yah ^_^’

  6. shofi

    boleh ya dibagiin di fb.. makasih…

  7. boleh,
    silakan saja.🙂

    kasih tau link-nya ya.
    makasih.

  8. Pingback: Kuntum Bunga Idul Adha « The Chronicle of Muttakin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s