Arti Diri Ini

quote:
“kadang ingin tau siapa yang kehilangan dan merasakan bahwa saya berarti…”

tiga orang di atas dua motor melaju di tengah gemerlap malam kota bandung. aku berada di salah satunya, dibonceng salah seorang temanku. selasa, 20 januari 2009, 21:30, kami meninggalkan cafe ‘double steak’, tempat kami berwisata kuliner hari itu. suasana lengang jalanan -yang biasanya padat sewaktu siang- menggoda kami untuk berkeliling sebelum pulang ke kosan. belokan pertama, sepasang bapak-anak tidur di teras pertokoan beralas bantal dan berselimut kain tipis seolah tempat itu sudah menjadi rumah bagi mereka. belokan kedua, seorang ibu tua duduk sendirian menghadapi sewadah panganan yang dijualnya. belokan ketiga, jajaran wanita menjajakan diri kepada tiap orang dan kendaraan yang lewat, dan kami pun menjadi sasaran lambaian tangan salah satu wanita itu. ternyata inilah realita kota bandung.

kusadari lagi, kota bandung begitu luas, jauh lebih luas dari kota asalku -cilegon-, dan aku mungkin hanya setitik buih di sela-selanya. sosok-sosok manusia yang berlalu-lalang yang tertangkap oleh retinaku, tak ada satupun yang istimewa begiku, mereka bukan siapa-siapa untukku. sama kasusnya dengan diriku, aku sama sekali tidak istimewa bagi mereka, aku bukan siapa-siapa untuk mereka. apalah awak ini kan.

lalu kuperkecil lingkup pemikiranku. kali ini scope-nya hanya mencakup orang-orang yang dekat dan kenal serta berinteraksi denganku: keluarga, teman, dan tetangga. sejauh apa aku mengartikan mereka dalam hidupku? apakah aku memiliki arti di kehidupan mereka?

aku percaya takdir. aku percaya Allah mengizinkanku lahir bukanlah suatu kesia-siaan. maha bijaksana Allah tidak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia. aku percaya Allah menempatkanku di tengah komunitas ini bukanlah suatu beban bagi yang lain. maha suci Allah tidak akan menzhalimi makhluqnya. tinggal bagaimana ikhtiar untuk membuat diri ini berarti dan membuat orang-orang di sekitar memiliki arti bagiku.

tapi, seberapa berartinya diriku bagi mereka, itu tidak terlalu penting buatku. aku hanya ingin mengartikan mereka dalam hidupku. yang dengan berartinya mereka itu memberiku motif untuk terus berjuang. aku tak peduli apakah aku penting bagi seorang teman. aku hanya ingin ia menjadi bagian penting dari diriku sehingga memberiku kekuatan untuk memaknai hidupku. walaupun mereka bukan hidup untukku, tapi aku akan hidup untuk mereka.

mengapa? karena mereka adalah anugerah Allah untukku. jika bukan dengan mereka lalu dengan siapa lagi aku akan berinteraksi? jika tidak mencintai mereka lalu siapa yang harus aku cintai? aku ingin bersyukur dengan cara melindungi kebahagiaan mereka.

suatu saat, aku ingin memperluas jangkauan keberartian itu. suatu saat, aku ingin umat ini menjadi berarti bagiku. namun seperti halnya meniup balon, untuk membuatnya menggelembung lebih besar dibutuhkan tenaga dan tiupan yang lebih banyak. butuh kapasitas lebih untuk bisa melindungi kebahagiaan umat. dan aku akan mulai bermimpi untuk bisa mencapai kapasitas itu.

backsound: surrounded – dream theater

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s