Tahun Baru: Antara Barbeque dan Mabit

rabu, 31 desember 2008, saya mendapat banyak ajakan dari teman untuk menghabiskan taun 2008. di himpunan digelar acara bakar jagung. sebagian akan berangkat ke tangkuban perahu. lain lagi, teman kos sebelah merancang kumpul sambil barbeque-an. agar tidak repot keluar jauh-jauh (masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan), saya putuskan untuk ikut acara barbeque.

rencana bakar-bakaran adalah sehabis isya’ sedangkan waktu saat itu masih sekitar jam 14. seorang teman kos pergi belanja daging dan bumbu serta bahan/alat lain yang diperlukan. seorang lagi punya hajat sendiri, tahun baru bersama teman sedaerah. beda dengan yang satu lagi, ia pergi tahun baruan dengan pacarnya. 15:00, saya meninggalkan kosan menuju kampus untuk agenda kelompok.

usai agenda, seorang teman memberitahu bahwa malam ini akan ada mabit (malam bina iman takwa, bermalam di masjid) di masjid salman dalam rangka tahun baru. keputusan berubah, saya menjalin niat untuk tahun baruan di masjid. karena tidak direncanakan sebelumnya, tas yang saya bawa hanya berisi quran, payung, dan sebuah buku catatan kecil+alat tulis. saya pikir, masih sempat untuk pulang ke kosan mengambil buku bacaan dan perlengkapan lain. teringat nasihat seorang teman terkait ayat:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” [QS Ali Imran (3) : 133]

seorang ustadz menafsirkan tentang pemakaian kata ‘bersegera’. hati manusia itu kadang cepat berubah tidak tentu dipengaruhi mood. maka jika sudah ada niat baik, segeralah laksanakan, jangan ditunda lagi. khawatir jika kembali ke kosan niat saya berubah lagi menjadi ikut barbeque, selepas maghrib saya tetap di masjid sambil menunggu acara dimulai dengan tilawah. alhamdulillah, tidak menyesal, acara tahun baru kali ini adalah yang terbaik yang saya rasakan selama hidup sampai sekarang.

jika biasa mencari keramaian tahun baru, saat itupun majelis ramai dan materi yang disampaikan sangat menarik serta bermanfaat.

jika biasa melihat kembang api dan mendengar bunyi terompet pada pukul 00:00, saat itupun saya melihat gemerlap kembang api dan ‘dering’ terompet pukul 00:00 yang muncul di jalan dago, sambil menikmati martabak dan diskusi dengan beberapa teman di koridor masjid.

jika biasa memutuskan resolusi tahun baru, saat itupun dihasilkan resolusi hasil diskusi kecil kami.

jika biasa melakukan introspeksi menyambut tahun baru, saat itupun ada sesi muhasabah sebagai salah satu agenda mabit.

jika biasa makan-makan hidangan tahun baru, saat itupun saya menyantap sahur bersama jamaah (kebetulan esoknya adalah hari kamis).

jika biasa tidak tidur merayakan tahun baru, saat itupun nyaris tidak tidur karena diisi dengan qiyamullail.

jika biasa membuat harapan di tahun baru, saat itupun doa dan harapan serta permohonan ampun terpanjat di sepertiga malam terakhir.

jika biasa mengujungi tempat menarik pada tahun baru, sungguh tidak ada tempat ‘semenarik’ rumah Allah.

yang berbeda adalah tentang sms ucapan tahun baru, kali ini yang muncul di hp adalah “lupakan ttg taun baru!pikirkn saudara2 kita d palestina yg trzhalimi!dunia diam,kita jgn ikt diam!kawan,panjatkn doamu utk mrk!Robbananshurna ‘alal kafirin.amin.”

rangkaian acara ditutup dengan kuliah shubuh hingga pukul 07:00. tahun 2009 tiba, tahun 2008 pergi. waktu berlalu menyisakan sejarah dan mimpi..

1 Comment

Filed under Diary

One response to “Tahun Baru: Antara Barbeque dan Mabit

  1. Pingback: Maksiat dan Akibatnya « The Chronicle of Muttakin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s