Muharram Hijrah Gaza Niat

minggu, 28 desember 2008, 13:40, saya tiba di kosan bandung setelah sebelumnya dari hari selasa berada di cilegon. 22:30, sebuah sms masuk dari seorang teman mengingatkan tentang tahun baru hijriyah.

jujur saja, saya benar-benar lupa jika hari ini sudah tanggal 1 muharram 1430 hijriyah. akhirnya hal tersebut juga menjadi bahan renungan tambahan di antara beberapa hal yang saya pikirkan malam ini sambil menunggu ‘tertidur’.

biasanya jika membahas tentang 1 muharram, tidak akan jauh-jauh dari fenomena hijrah. terlintas kisah yang pernah dibaca dari buku sirah nabawwiyah, bagaimana hijrah telah menjadi titik balik perjuangan kaum muslimin saat itu. bergetar hati ini membayangkan bagaimana perjuangan rasulullah dan para sahabat dalam menegakkan islam. terucap lagi ungkapan syukur yang sering diucapkan sebagai pembuka majelis, “segala puji bagi Allah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq, untuk dimenangkan-Nya atas segala agama.”

air mata muncul, saat tiba-tiba teringat headline di koran yang sempat saya baca di bus sewaktu perjalanan. israel menyerang jalur gaza, sekitar 200 korban tewas. saya baca lagi sms ajakan aksi solidaritas palestina yang terkirim tadi siang, “gaza diserang!,lbh 200 orang syahid.dunia diam.kita harus bergerak!” sungguh, perjuangan belum usai. ya Allah, berilah kekuatan kepada kaum muslimin, menangkan kami atas kaum kafir.

berpikir lebih dalam tentang hijrah, alhamdulillah masih terhafal sebuah hadits dari kumpulan 40 hadits karya imam nawawi:
dari amirul mukminin, abu hafsh, umar bin khaththab r.a., ia berkata, “saya mendengar rasulullah saw bersabda, ‘setiap amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. dan barang siapa yang hijrahnya Karena dunia yang diinginkannya atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.'” [HR Bukhari dan Muslim]

banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari hadits tersebut. tapi saya ingin menyoroti dua hal dari yang pernah saya pelajari terkait hadits tersebut:
pebuatan mubah yang bermanfaat jika dilakukan dengan niat mencari ridho Allah maka akan bernilai sebagai ibadah.
yang membedakan antara ibadah dan rutinitas adalah niat.

jadi sudahkah kita memaknai aktivitas kehidupan kita (belajar, bekerja, dll.) sehingga bernilai ibadah?

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.[QS Adz-Dzariyat (51) : 56]

(hmm.. kalau dirunut dari atas ke bawah, ternyata tulisannya agak tidak nyambung, haha, maklumlah malam sudah semakin larut)

Leave a comment

Filed under Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s